ANDALAS/Bandarlampung/Humaniora/11062026
—- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan sumber air selama musim kemarau.
Pasalnya, berkurangnya ketersediaan air bersih berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Tumenggung mengatakan, musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini dapat berdampak pada kesehatan masyarakat apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Menurutnya, salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah penggunaan sumber air yang tidak memenuhi standar kesehatan. Kondisi tersebut dapat memicu munculnya sejumlah penyakit, mulai dari diare, tifoid, kolera hingga leptospirosis.
“Ketika musim kemarau, masyarakat sering memanfaatkan sumber air alternatif karena ketersediaan air berkurang. Namun harus dipastikan air yang digunakan memiliki sanitasi yang baik dan aman untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan, air yang tercemar bakteri maupun limbah dapat menjadi media penyebaran berbagai penyakit. Karena itu, masyarakat diminta lebih selektif dalam memilih sumber air, terutama untuk konsumsi dan kebutuhan rumah tangga.
“Jangan asal menggunakan sumber air. Pastikan air yang dipakai bersih, tidak tercemar, dan jika untuk diminum harus direbus hingga matang. Ini penting untuk mencegah penyakit yang sering muncul saat musim kemarau,” katanya.
Selain penyakit yang berkaitan dengan sanitasi air, Muhtadi juga mengingatkan masyarakat terhadap ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Meski curah hujan menurun, nyamuk Aedes aegypti masih dapat berkembang biak pada genangan air yang terdapat di lingkungan sekitar.
Karena itu, masyarakat tetap diminta rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Di sisi lain, kondisi udara yang lebih kering dan berdebu selama musim kemarau juga berpotensi meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bronkitis, serta gangguan kesehatan pernapasan lainnya.
“Debu dan polusi udara dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki penyakit bawaan. Karena itu kami sarankan untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan,” ungkapnya.
Muhtadi menambahkan, cuaca panas yang terjadi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan dehidrasi hingga heat stroke apabila tubuh kekurangan cairan.
Untuk menghindari kondisi tersebut, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas berat di bawah terik matahari, serta menjaga pola hidup bersih dan sehat.
“Kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan selama musim kemarau. Mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, memastikan sanitasi air tetap baik, hingga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit,” pungkasnya.(*)
